Rasakan Nikmatnya sensasi Pecel Madiun kembang turi, dengan sambal yang mantap dan bikin sumringah

Peluang Usaha Nugget Salmon

Informasi dan Pemesanan Telp/SMS 021-98850187,021-93023631, 085691669301 PIN BB : 2759CB81 email: rumahnugget@yahoo.co.id fbpage: Seafood Online Twitter: @rumahnugget

Peluang Usaha

DENGAN MODAL KECIL, UNTUNG BESAR
Jadilah Agen, Sub Agen atau Reseller dari Baju-baju Muslimah. Bisa Drop Shipping, gak repot harus stok barang. Telp/sms : 085691669301, 021-98850187

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday100
mod_vvisit_counterYesterday222
mod_vvisit_counterThis Week624
mod_vvisit_counterLast Week1343
mod_vvisit_counterThis Month1430
mod_vvisit_counterLast Month5953
mod_vvisit_counterAll days107636

Online (20 minutes ago): 12
Your IP: 38.107.179.214
,
Today: Feb 08, 2012

Pembayaran

Baner
Baner
Baner
Baner
Baner
Baner
Baner
Ina Cookies Depok

Keranjang Takakura

Pengomposan cara ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa, bujangan, keluarga kecil, karena bisa ditempatkan di dalam kamar, apartemen, atau di dalam rumah biasa. Dalam kunjungan saya ke rumah Bapak dan Ibu Djamaludin, pemilik taman kompos Karinda, di Lebak Bulus, Jakarta, saya mendapat ilmu baru, yaitu membuat kompos murah dengan wadah keranjang plastik.

Pengomposan cara ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa, bujangan, keluarga kecil, karena bisa ditempatkan di dalam kamar, apartemen, atau di dalam rumah biasa.

Menurut Ibu Djamaludin, konsep membuat kompos dengan keranjang ini diperkenalkan oleh Mr. Takakura pada saat pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga di Pusdakota Surabaya. Rupanya ini pengalaman praktek Mr. Takakura sendiri di Jepang. Jadi keranjang ini dikenal sebagai Keranjang Takakura.

 

Keranjang plastik semacam di gambar foto, mudah didapat di toko atau pasar yang menjual barang-barang kelontong rumah tangga. Ukurannya hanya sekitar 50 liter, biasanya digunakan untuk keranjang wadah pakaian kotor sebelum dicuci.

Caranya begini:

Pertama, cari keranjang berukuran 50 liter berlubang-lubang kecil (supaya bangsanya tikus tidak bisa masuk). Jangan lupa kalau membeli keranjang plastik ini berikut tutupnya.

Kedua, cari doos bekas wadah air minum kemasan, atau bekas wadah super mi, asal bisa masuk ke dalam keranjang. Doos ini untuk wadah langsung dari bahan-bahan yang akan dikomposkan.

Ketiga, isikan ke dalam doos ini kompos yang sudah jadi. Kalau sebelumnya anda tidak membuat kompos sendiri, anda minta saja ke teman anda yang punya persediaan kompos yang siap pakai. Tebarkan kompos ke dalam doos selapis saja setebal kurang lebih 5 cm. Lapisan kompos yang sudah jadi ini berfungsi sebagai starter proses pengomposan, karena di dalam kompos yang sudah jadi tersebut mengandung banyak sekali mikroba-mikroba pengurai. Setelah itu masukkan doos tersebut ke dalam keranjang plastik.

Keempat, bahan-bahan yang hendak dikomposkan sudah bisa dimasukkan ke dalam keranjang. Bahan-bahan yang sebaiknya dikomposkan antara lain: Sisa makanan dari meja makan: nasi, sayur, kulit buah-buahan. Sisa sayuran mentah dapur: akar sayuran, batang sayuran yang tidak terpakai. Sebelum dimasukkan ke dalam keranjang, harus dipotong-potong kecil-kecil sampai ukuran 2 cm x 2 cm.

Kelima, setiap hari bahkan setiap habis makan, lakukanlah proses memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan seperti tahap sebelumnya. Demikian seterusnya. Aduk-aduklah setiap selesai memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan. Bilamana perlu tambahkan lagi selapis kompos yang sudah jadi.

Anehnya, doos dalam keranjang ini lama tidak penuhnya, sebab bahan-bahan dalam doos tadi mengempis. Terkadang kompos ini beraroma jeruk, bila kita banyak memasukkan kulit jeruk. Bila kompos sudah berwarna coklat kehitaman dan suhu sama dengan suhu kamar, maka kompos sudah dapat dimanfaatkan.


Sampah dapur yang dimasukkan di Keranjang Takakura sebaiknya dalam materi yang kecil. Semakin kecil materi, semakin mudah diuraikan. Untuk sisa sayur dan buah, potonglah kecil-kecil.


Gali starter kompos di dalam keranjang tersebut dengan cetok. Luasan dan kedalaman galian, sesuaikan dengan banyaknya sampah yang hendak dimasukkan.
Masukkan sampah pada lubang yang digali. Tusuk-tusuk sampah tersebut dengan cetok.
Timbun sampah tadi dengan kompos di tepian lubang.
Tutup kompos tersebut dengan bantalan sekam.
Tutup permukaan keranjang dengan kain.
Yang terakhir, tutuplah dengan tutup keranjang.

Catatan: khusus untuk komposter Keranjang Takakura ini, upayakan agar bekas sayuran bersantan, daging dan bahan lain yang mengandung protein tidak dimasukkan ke dalam doos. Mengingat starter-nya telah menggunakan kompos yang sudah jadi, maka MOL (mikroba loka) tidak digunakan.
T: ITU BANTAL SEKAM TARONYA DIMANA? DI LUAR KARDUS ATAU DIDALAM KARDUS

J: Kalau menurut di sini dan di sini, bantal sekamnya ditaroh di dasar keranjang, sebelum kardus dimasukkan. Lebih jelasnya begini:

Katanya, ini juga bener. Tapi, sebaiknya kardus ini dilapisi kardus lagi (biar dobel kuatnya), karena kan bakterinya rajin mencerna nggak cuma sampah tapi juga sisi kardus. Bantal sekam tetap di dalam gitu.

Jadi dua-duanya bener… Syukurlah. Oh iya, itu selotip, boleh dipasang nanti kalau sudah mulai penuh saja, atau mau dipasang dari awal juga nggak apa-apa. Aku masih belum pasang selotip, supaya kardusnya bisa nutup dengan mudah (dan belum penuh). Hehehe. Mungkin di hari keempat atau kelima sudah harus pasang selotip.

T: TACCHAN, SI KERANJANG TAKAKURA, MENGELUARKAN PANAS YA?
Apakah Tacchan sakit? Panas itu apa sih sebenernya?
Lalu apakah mengeluarkan gas berbahaya?

J: Katanya, panas yang dikeluarkan itu wajar-wajar saja.
Coba kita tumpangkan tangan ke tangan yang sebelah satu lagi (jangan sampe menyentuh), pasti ada rasa hangat-hangat yang mengalir ruang antara dua tangan itu kan? Itu adalah panas alami tubuh yang dikeluarkan oleh makhluk hidup. Begitu juga dengan bakteri, punya panas sendiri. Tapi karena bakteri itu kecil-kecil jadi kadang-kadang kalo dia lagi bengong ngga melakukan apa-apa, ya nggak terasa panasnya.

Di dalam Tacchan, ada banyak bakteri dan mikroba lainnya yang giat bekerja. Dan kalau sedang giat bekerja, pasti mengeluarkan panas yang lebih banyak. Contohnya, kalau kita berolah raga atau habis bekerja berat, suhu tubuh pasti meningkat lalu merasa gerah. Nah, bakteri juga begitu, mengeluarkan panas (kalor) gitu, dan akhirnya Tacchan juga terasa hangat. Kira-kira begitu teorinya. Semoga aku nggak salah ngerti. Hihihi

Lalu, apakah bakteri di dalam Tacchan itu mengeluarkan gas? Apakah gasnya berbahaya bagi lingkungan?

Nah, yang ini… aku belum jelas betul tanyanya. Tapi secara garis besar sih… seperti makhluk lainnya, Bapak dan Ibu Bakteri yang mencerna pasti mengeluarkan gas. Akan tetapi, berbeda dengan gas buangan bakteri yang "liar" yang di TPA itu, bakteri yang terdapat di dalam kompos atau di dalam bio aktivator itu adalah bakteri yang "baik" dan "bersahabat". Contoh bakteri yang digunakan untuk kompos adalah Lactobacillus. Nah, sering denger kan nama bakteri yang satu ini? Kayak bakteri yang dipake dalam minuman kesehatan atau susu. Selain itu ada juga Aktinomyces, Saccharomyces, mikroba, bakteri, jamur dan ragi lainnya

Dan, tentu saja jangan lupa kalau bikin kompos lebih pada proses fermentasi, dan bukan proses pembusukan.

T: SEBERAPA BANYAK SAMPAH YG BOLEH DIMASUKAN KE DALAM TACCHAN.
Kapan harus bilang "stop"?

J: Semakin sedikit sampah yang dimasukkan ke dalam kotak ini, semakin cepat sampah itu berubah menjadi kompos, karena perbandingan antara bakteri dan sampah tinggi. Analoginya gimana ya? Mungkin seperti kalau kita punya sepotong roti, dimakan berempat ya lebih cepat habis dibandingkan kalau empat orang itu masing-masing makan satu roti. Jadi semakin banyak bakteri yang bekerja pada satu potong sampah, semakin cepat sampah itu berubah menjadi kompos. Makanya kan sering pake bio-aktivator juga, supaya populasi bakteri di dalam starter kompos jadi banyak.

Gimana perbandingannya? Mungkin paling maksimal adalah 2:1 (dua bagian kompos/bakteri, dan satu bagian sampah). Kalau begini, mungkin prosesnya memakan satu dua bulanan. Kalau perbandingannya 4:1 atau 5:1, mungkin seminggu dua minggu (atau tiga minggu?) paling sudah jadi.

Ukuran ngaruh nggak?

Ngaruh juga sih ya. Semakin halus ukurannya, semakin cepat si bakteri bekerja. Ya bayangin aja kita makan steak daging sapi, antara yang sudah dipotong, sama yang masih berbentuk sapi utuh. Hehehe.


Jadi, kira-kira begitu deh, jawaban yang aku terima dan dirangkum seperti itulah. Mungkin semakin lama aku ngemong si Tacchan, semakin banyak pertanyaan juga ya? Hehehe, jangan kapok-kapok sama sayah yahhh… Dan seperti selalu, kalau ada misalnya salah informasi, ada kurang apa, tolong dibenerin ya. Soalnya aku buta banget soal biologi. Walau dulu seneng banget sama pelajaran biologi, tapi entah kenapa nilai biologiku (dan nilai-nilai IPA lainnya rada jebol). Aku yakin, temen-temen yang aku tanyain nggak menjerumuskan. Tapi kadang-kadang sayah, dalam kegiatan rangkum merangkum, suka seenak jidat sendiri. Hehehe.. *ngumpet*

Catatan:
Letakkan Keranjang Takakura di tempat yang terhindar dari sinar matahari langsung.
Bila kompos kering, perciki air bersih sambil diaduk merata. Suhu ideal adalah 60 derajat celsius.

Cara Pemanenan
Bila kompos di dalam Keranjang Takakura telah penuh, ambil 1/3-nya dan kita matangkan selama seminggu di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sisanya yang 2/3 bisa kita gunakan kembali sebagai starter untuk pengolahan berikutnya.