| Keranjang Takakura |
|
Pengomposan cara ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa, bujangan, keluarga kecil, karena bisa ditempatkan di dalam kamar, apartemen, atau di dalam rumah biasa. Dalam kunjungan saya ke rumah Bapak dan Ibu Djamaludin, pemilik taman kompos Karinda, di Lebak Bulus, Jakarta, saya mendapat ilmu baru, yaitu membuat kompos murah dengan wadah keranjang plastik. Pengomposan cara ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa, bujangan, keluarga kecil, karena bisa ditempatkan di dalam kamar, apartemen, atau di dalam rumah biasa. Menurut Ibu Djamaludin, konsep membuat kompos dengan keranjang ini diperkenalkan oleh Mr. Takakura pada saat pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga di Pusdakota Surabaya. Rupanya ini pengalaman praktek Mr. Takakura sendiri di Jepang. Jadi keranjang ini dikenal sebagai Keranjang Takakura.
Keranjang plastik semacam di gambar foto, mudah didapat di toko atau pasar yang menjual barang-barang kelontong rumah tangga. Ukurannya hanya sekitar 50 liter, biasanya digunakan untuk keranjang wadah pakaian kotor sebelum dicuci. Caranya begini: Pertama, cari keranjang berukuran 50 liter berlubang-lubang kecil (supaya bangsanya tikus tidak bisa masuk). Jangan lupa kalau membeli keranjang plastik ini berikut tutupnya. Kedua, cari doos bekas wadah air minum kemasan, atau bekas wadah super mi, asal bisa masuk ke dalam keranjang. Doos ini untuk wadah langsung dari bahan-bahan yang akan dikomposkan. Ketiga, isikan ke dalam doos ini kompos yang sudah jadi. Kalau sebelumnya anda tidak membuat kompos sendiri, anda minta saja ke teman anda yang punya persediaan kompos yang siap pakai. Tebarkan kompos ke dalam doos selapis saja setebal kurang lebih 5 cm. Lapisan kompos yang sudah jadi ini berfungsi sebagai starter proses pengomposan, karena di dalam kompos yang sudah jadi tersebut mengandung banyak sekali mikroba-mikroba pengurai. Setelah itu masukkan doos tersebut ke dalam keranjang plastik. Keempat, bahan-bahan yang hendak dikomposkan sudah bisa dimasukkan ke dalam keranjang. Bahan-bahan yang sebaiknya dikomposkan antara lain: Sisa makanan dari meja makan: nasi, sayur, kulit buah-buahan. Sisa sayuran mentah dapur: akar sayuran, batang sayuran yang tidak terpakai. Sebelum dimasukkan ke dalam keranjang, harus dipotong-potong kecil-kecil sampai ukuran 2 cm x 2 cm. Kelima, setiap hari bahkan setiap habis makan, lakukanlah proses memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan seperti tahap sebelumnya. Demikian seterusnya. Aduk-aduklah setiap selesai memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan. Bilamana perlu tambahkan lagi selapis kompos yang sudah jadi. Anehnya, doos dalam keranjang ini lama tidak penuhnya, sebab bahan-bahan dalam doos tadi mengempis. Terkadang kompos ini beraroma jeruk, bila kita banyak memasukkan kulit jeruk. Bila kompos sudah berwarna coklat kehitaman dan suhu sama dengan suhu kamar, maka kompos sudah dapat dimanfaatkan.
Catatan: khusus untuk komposter Keranjang Takakura ini, upayakan agar bekas sayuran bersantan, daging dan bahan lain yang mengandung protein tidak dimasukkan ke dalam doos. Mengingat starter-nya telah menggunakan kompos yang sudah jadi, maka MOL (mikroba loka) tidak digunakan. J: Kalau menurut di sini dan di sini, bantal sekamnya ditaroh di dasar keranjang, sebelum kardus dimasukkan. Lebih jelasnya begini: Katanya, ini juga bener. Tapi, sebaiknya kardus ini dilapisi kardus lagi (biar dobel kuatnya), karena kan bakterinya rajin mencerna nggak cuma sampah tapi juga sisi kardus. Bantal sekam tetap di dalam gitu. Jadi dua-duanya bener… Syukurlah. Oh iya, itu selotip, boleh dipasang nanti kalau sudah mulai penuh saja, atau mau dipasang dari awal juga nggak apa-apa. Aku masih belum pasang selotip, supaya kardusnya bisa nutup dengan mudah (dan belum penuh). Hehehe. Mungkin di hari keempat atau kelima sudah harus pasang selotip. T: TACCHAN, SI KERANJANG TAKAKURA, MENGELUARKAN PANAS YA? J: Katanya, panas yang dikeluarkan itu wajar-wajar saja. Di dalam Tacchan, ada banyak bakteri dan mikroba lainnya yang giat bekerja. Dan kalau sedang giat bekerja, pasti mengeluarkan panas yang lebih banyak. Contohnya, kalau kita berolah raga atau habis bekerja berat, suhu tubuh pasti meningkat lalu merasa gerah. Nah, bakteri juga begitu, mengeluarkan panas (kalor) gitu, dan akhirnya Tacchan juga terasa hangat. Kira-kira begitu teorinya. Semoga aku nggak salah ngerti. Hihihi Lalu, apakah bakteri di dalam Tacchan itu mengeluarkan gas? Apakah gasnya berbahaya bagi lingkungan? Nah, yang ini… aku belum jelas betul tanyanya. Tapi secara garis besar sih… seperti makhluk lainnya, Bapak dan Ibu Bakteri yang mencerna pasti mengeluarkan gas. Akan tetapi, berbeda dengan gas buangan bakteri yang "liar" yang di TPA itu, bakteri yang terdapat di dalam kompos atau di dalam bio aktivator itu adalah bakteri yang "baik" dan "bersahabat". Contoh bakteri yang digunakan untuk kompos adalah Lactobacillus. Nah, sering denger kan nama bakteri yang satu ini? Kayak bakteri yang dipake dalam minuman kesehatan atau susu. Selain itu ada juga Aktinomyces, Saccharomyces, mikroba, bakteri, jamur dan ragi lainnya Dan, tentu saja jangan lupa kalau bikin kompos lebih pada proses fermentasi, dan bukan proses pembusukan. T: SEBERAPA BANYAK SAMPAH YG BOLEH DIMASUKAN KE DALAM TACCHAN. J: Semakin sedikit sampah yang dimasukkan ke dalam kotak ini, semakin cepat sampah itu berubah menjadi kompos, karena perbandingan antara bakteri dan sampah tinggi. Analoginya gimana ya? Mungkin seperti kalau kita punya sepotong roti, dimakan berempat ya lebih cepat habis dibandingkan kalau empat orang itu masing-masing makan satu roti. Jadi semakin banyak bakteri yang bekerja pada satu potong sampah, semakin cepat sampah itu berubah menjadi kompos. Makanya kan sering pake bio-aktivator juga, supaya populasi bakteri di dalam starter kompos jadi banyak. Gimana perbandingannya? Mungkin paling maksimal adalah 2:1 (dua bagian kompos/bakteri, dan satu bagian sampah). Kalau begini, mungkin prosesnya memakan satu dua bulanan. Kalau perbandingannya 4:1 atau 5:1, mungkin seminggu dua minggu (atau tiga minggu?) paling sudah jadi. Ukuran ngaruh nggak? Ngaruh juga sih ya. Semakin halus ukurannya, semakin cepat si bakteri bekerja. Ya bayangin aja kita makan steak daging sapi, antara yang sudah dipotong, sama yang masih berbentuk sapi utuh. Hehehe.
Catatan: Cara Pemanenan |




















